03 August 2018

you are contributing

During a visit to the NASA space center in 1962, President John F. Kennedy noticed a janitor carrying a broom. 

He interrupted his tour, walked over to the man and said, "Hi, I'm Jack Kennedy. What are you doing?"

"Well, Mr. President," the janitor responded, "I'm helping put a man on the moon."

To most people, this janitor was just cleaning the building. But in the more mythic, larger story unfolding around him, he was helping to make history.

Here's the point: No matter how large or small your role, you are contributing to the larger story unfolding within your life, your business and your organization.

And when your entire team embraces that type of attitude and belief system, incredible things happen.

https://www.bizjournals.com/bizjournals/how-to/growth-strategies/2014/12/what-a-nasa-janitor-can-teach-us.html


06 July 2018

maximal training

Dalam alkitab, banyak hal yang bisa kita terapkan dalam kehidupan
Jadi saya menyarankan saudara untuk membaca alkitab secara rutin dan menuliskan hal yang bisa diterapkan dalam kehidupan
Semakin sering membaca, semakin saudara dirubahkan
Aplikasikan prinsip alkitab ke dalam kehidupan saudara
Ada jaminan dari Yesus Tuhan, pasti saudara akan maximal

12 January 2018

"membaur"

Lee adalah pegawai bank yang rajin dan dapat diandalkan. Namun, karena ingin menerapkan imannya dengan sungguh-sungguh, ia sering harus tampil beda dalam pergaulan sehari-hari. Misalnya, ketika ia memilih untuk keluar dari ruang istirahat di kantornya saat percakapan sudah menjurus ke hal-hal yang tidak senonoh. Dalam kelompok penggalian Alkitab yang diikutinya, ia menceritakan pergumulannya, “Aku takut kehilangan kesempatan untuk dipromosikan karena tak mau membaur.”

Khawatir tentang “membaur” ????

Umat Allah pada zaman Nabi Maleakhi menghadapi tantangan serupa. Mereka telah kembali dari pembuangan dan Bait Allah sudah dibangun ulang. Namun, mereka ragu dengan rencana Allah bagi masa depan mereka. Ada di antara mereka yang berkata, “Percuma saja berbakti kepada Allah. Apa gunanya melakukan kewajiban kita terhadap Tuhan Yang Mahakuasa . . . ? Kita lihat sendiri bahwa orang-orang sombong bahagia. Orang jahat tidak hanya bertambah makmur, tetapi kalau mereka menguji kesabaran Allah dengan berbuat jahat, mereka luput juga” (Mal. 3:14-15 BIS).

Benar, Allah memperhatikan dan mempedulikan semua orang yang takut kepada-Nya dan yang menghormati-Nya. Dia tidak memerintahkan kita “membaur” dengan dunia, melainkan untuk makin mendekat kepada-Nya setiap hari sembari kita menguatkan satu sama lain. Karena itu, marilah kita hidup dengan setia!


Bagaimana kita dapat tetap setia kepada Allah di tengah suatu dunia yang menganggap kita ketinggalan zaman jika kita tidak membaur? Mereka yang hidup setia pada zaman Maleakhi menjawab tantangan itu dengan berkumpul bersama orang percaya lainnya untuk saling menguatkan. Maleakhi menyatakan satu hal yang penting: “Tuhan mendengar dan memperhatikan apa yang mereka katakan” (ay.16 BIS) https://santapanrohani.org/today/

25 August 2017

salah melabel orang lain

💥 KISAH INSPIRASI HIDUP💥

Tidak Ada Orang yang Tidak Memiliki Kompetensi.

Di suatu sekolah, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan  sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya.

Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya– selalu berpakaian kotor dan acak-acakan. Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas. Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya.

Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini. Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini. Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini.

Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1.

Di sana tertulis: “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,”

“..Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain….,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini.

Di catatan raport kelas 2 tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan,”

Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas,”

Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan,”

Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini,”

Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada. Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam…

Terbukalah mata dan hati guru itu. Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak: “Bu guru kerja sampai sore di sekolah, bagaimana kalau kamu juga belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin,”

Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya.

Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh, prepare dan review dia lakukan di bangkunya di kelasnya.

Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi.

Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak.

Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis. “Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.”

Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak. Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.”

Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. Di sana tertulis, “Saya menjadi dokter yang mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,”

Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5.

Setahun kemudian, yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris,

“Mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya,”

Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia

KESIMPULAN
mudah sekali pribadi manusia melabel orang lain tanpa tahu sejarahnya kenapa dia berbuat begitu
mudah sekali pribadi manusia memberikan penghinaan daripada solusi
mudah sekali pribadi manusia tidak peduli kepada orang lain 
mudah sekali pribadi manusia tidak mau berkorban
hanya Yesus yang bisa membantu pribadi manusia melakukan itu semua, bahkan lebih dari pada itu

04 June 2017

siapa yang memisahkan kita dari kasih Kristus ???


Roma 8:35, 38-39 (TB) Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? 1. Penindasan atau 2.kesesakan atau 3. Penganiayaan, atau 4. kelaparan atau 5. ketelanjangan, atau 6. bahaya, atau 7. pedang?
Sebab aku yakin, bahwa baik 1. maut, maupun 2. hidup, baik 3. malaikat-malaikat, maupun 4. pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,
atau 5. kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun 6. sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.


Kristalisasi
Apapun keadaan yg kita hadapi sekarang. Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?. Maut atau hidup, pemerintah, malaikat, kuasa, mahluk lain. Tidak akan memisahkan kita dari kasih Kristus Yesus Tuhan kita.